Menikah Itu Memang Ibadah. Tapi Mesti Ada Persiapan yang Terarah

https://www.mediainformasi.online/2018/03/menikah-itu-mesti-ada-persiapan.html
Menikah Itu Memang Ibadah. Tapi Mesti Ada Persiapan yang Terarah
Sering Terdengar pertanyaan menyinggung status lajang kita atau kalimat mendoakan agar kita segera menyusul untuk menikah bukan hal baru lagi. Kita sudah sering kali menghadapi dan selalu punya jawaban jitu untuk menanggapi. Status lajang atau masih sendiri ini sama sekali bukan karena menolak atau menunda kodrat untuk menikah. Tidak sama sekali melainkan karena kita tahu menikah itu ibadah, maka bukan berarti menyegerakan tanpa persiapan. Tidak terburu-buru dan memaksakan keadaan. Terkadang kita hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja.

Menikah itu bukan hanya penyatukan antara aku dan dia. Ada keluarga dan teman-teman di belakangnya.

Sudah jadi rahasia umum ketika ada yang mau menikah, maka orang-orang di belakangnya turut disibukkan. Karena pernikahan merupakan momen bersatunya dua keluarga besar dan teman-teman. Yang bersatu bukan hanya hati pengantin, tapi juga para kerabat kedua belah pihak. Maka dari itu, seringkali ada kabar mengejutkan dari pasangan yang sudah saling dekat dan cinta bisa pisah karena hal ini. Apakah hal itu menyangkut keluarganya tidak setuju atau melihat ketidak cocokan pasangan dengan teman-teman juga jadi penyebabnya.

Baca Juga :
Nah..itulah pernikahan. Menuju tahap ke pernikahan pun perlu perjuangan keras. Tentu kehidupan setelahnya akan lebih berat lagi. Jika tidak bisa melalui masalah keluarga besar dan teman-teman untuk bersatu, bukan tidak mungkin setelah menikah akan lebih sulit. Perkara yang dihadapi lebih banyak dan menguji diri.

Tidak cuma perkara rasa, tapi juga bagaimana kita saat bertengkar nanti harus dipikirkan. Karena masalah yang muncul saat ini dan setelah menikah itu jelas berbeda.

Pacaran bertahun-tahun atau sudah kenal sejak lama belum jadi jaminan pertengkaran dapat dihindari. Yang namanya masalah pasti akan selalu ada baik itu sudah lama atau sedekat apapun kalian dulu bisa tetap muncul. Hanya saja perkara setelah menikah berbeda tingkatannya. Bukan lagi hal remeh seperti telat dijemput atau selalu jawab terserah saat lagi marahan. Masalah tempat tinggal, uang bulanan, kredit kendaraan, hingga mertua yang suka suka mengatur beberapa di antaranya.

Ada pula kalau masa-masa pacaran atau pendekatan dulu suka dilanda rindu, sebaliknya dengan menikah. Kita dan pasangan bisa bosan lantaran bertemu hampir setiap waktu. Mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi kamu akan melihat orang yang sama. Orang yang itu-itu lagi. Dan bukan selalu dalam tampilan menawan yang sudah bersolek.

Hal lain adalah kita harus siap mendampinginya dalam keadaan apapun. Dia yang suatu saat sakit atau mendapat masalah di kantor adalah dua di antaranya. Kalau kita masih meragu, waktu yang ada saat ini bisa kamu manfaatkan untuk mempertimbangkan. Silahkan gunakan waktumu sebaik-baiknya buat berpikir selagi bisa.

Modal adalah hal penting dalam pernikahan. Jika tidak diperhitungkan, akan makin banyak masalah muncul karena ini.

Bukan bermaksud tidak percaya dengan rejeki Tuhan setelah menikah. Namun, pernikahan itu sangat erat kaitannya dengan modal. Terutama dengan adat Indonesia yang kental menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran. Tentu dana yang akan dikeluarkan cukup banyak dan pihak keluarga akan turun tangan ikut membantu biaya. Kita dan pasangan pasti jadi merasa tidak enak dan gengsi menerimanya. Tapi, mau bagaimana lagi?

"Begitupun setelah menikah kita dan pasangan mulai membangun rumah tangga dari nol. Perjalanan keluarga kecil yang baru dibangun ini pun masih panjang".

Memang benar bahwa tingkat kemapanan itu tidak ada yang absolut, tapi paling tidak kita perlu memperhitungkannya. Misalnya pilih mengontrak atau menyicil rumah, berapa biaya bulanan yang akan dihabiskan, lalu berapa banyak yang bisa ditabung. Itu semua harus sudah dipikirkan, sehingga kita dapat menyiapkan berapa banyak nominal modal tabungan untuk membina rumah tangga. Dengan begitu, kemungkinan masalah muncul karena hal ini akan berkurang.

Menikah itu kalau bisa sekali seumur hidup. Sejak sah menjadi pasangan suami-istri hingga maut memisahkan. Oleh karena itu, jangan sampai kita membohongi diri sendiri dengan berpura-pura menjadi orang lain.  Meski hal itu dilakukan untuk memuluskan hubungan atau terpaksa karena umur kian bertambah, cara tersebut bukan solusi yang tepat. Dengan menolak menunjukkan jati dirimu sesungguhnya, maka masalah yang muncul di kemudian hari tambah memusingkan.

Sangat diharapkan ketika calon pengantin akan menikah, memang sudah berbiasa menunjukkan karakter sebenarnya. Bukan mencoba menjadi diri orang lain agar diterima. Bukan dicocok-cocokkan atau dinyaman-nyamankan untuk memaksakan keadaan.

Menikah itu bukan hal yang mudah., tapi bagi orang-orang yang sejak dulu telah menyiapkan. Tidak heran kalau ada banyak sejoli yang hubungannya kandas karena salah satunya belum siap menikah. Namun, silahkan berkaca pada diri sendiri kalau status lajang ini bukan karena terpaksa. Tapi karena kita berprinsip untuk menjalankan ibadah yang bukan main-main. Baik terburu-buru maupun terpaksa karena keadaan. Karena menikah itu bagimu bukan harus disegerakan tanpa persiapan.
Menikah Itu Memang Ibadah. Tapi Mesti Ada Persiapan yang Terarah Menikah Itu Memang Ibadah. Tapi Mesti Ada Persiapan yang Terarah Reviewed by Ijul Lke on 7:39 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.